Pekebun Karet dan Peternak Kambing Latihan Membuat Biopestisida Ramah Lingkungan

Pekebun karet di desa Sungai Bokor resah karena kebun karetnya mulai terserang penyakit mematikan yang disebabkan oleh jamur akar putih (Rigidoporus sp). Serangan gangguan jamur akar putih terus bertambah meluas, sehingga petani sangat menderita.

Sebagai penyebab terjadinya penyakit, jamur akar putih menyebar lewat tanah dengan serangan pertama kali pada bagian akar tanaman dalam tanah. Akibat serangan pada tahap awal di bagian akar sehingga tidak menunjukkan gejala di bagian tanaman di atas tanah, akibatnya sulit diketahui lebih dini tanaman sdh mulai terserang. Setelah serangan parah baru tampak terlihat di bagian atas tanaman dan bahkan  petani baru sadar setelah tanaman tumbang.

Selain mata pencaharian dari berkebun karet, sebagian besar masyarakat Sungai Bokor juga mulai mengembangkan peternakan kambing Ettawa dengan bimbingan intensif dari tim ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Saat ini hasil pembinaan dan pendampingan sudah membuahkan hasil dengan bukti jumlah kambing yang terus meningkat dan produk susu yang bertambah banyak dari waktu ke waktu. Bahkan produknya bukan hanya berupa susu tapi juga yogurt dan kefir, yang sudah berkembang pesat menjadi produk andalan masyarakat.

Seiring pertambahan jumlah kambing yang terus meningkat berakibat juga limbah berupa kotoran kambing yang juga terus melimpah. Akibatnya keberadaan kotoran tadi menjadi keluhan masyarakat sekitar. Padahal limbah berupa kotoran ini masih bisa  dimanfaatkan apabila ditindaklanjuti dengan berbagai perlakuan.

Tim dosen dari Program Studi Proteksi Tanaman Universitas Lambung Mangkurat melalui program IbM (Iptek bagi Masyarakat) yang sumber pembiayaannya dari Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi, melihat peluang ini untuk melatih pekebun dan petenak membuat Biopestisida Trikokompos. Biopestisida Trikokompos dibuat dengan bahan dasar jamur Trichoderma spp yang diambil dari sekitar pohon karet sehat dan kompos kotoran kambing sebagai bahan pembawanya.

Diharapkan dengan penggunaan biopestisida dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat teratasi dengan tanpa menimbulkan masalah pencemaran terhadap produk pertanian. Jadi Tricokompos merupakan alternatif yang harus dipilih untuk menggantikan pestisida kimia karena murah, ramah lingkungan dan membantu mengurangi penggunaan subsidi dan devisa negara.

Hasil penelitian dan pembuktian lapang sudah banyak dilaporkan tentang keampuhan jamur antagonis Trichoderma sp sebagai makhluk ciptaan Allah yang mampu mengendalikan penyakit tanaman termasuk jamur akar putih.

Salah satu kontribusi Perguruan Tinggi yang tercermin dari Tridharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat yakni membantu masyarakat berupa alih teknologi yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Teknologi yang disederhanakan untuk pembuatan Trichokompos dilatihkan kepada kelompok tani Lebah Madu Desa Pematang Danau Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar agar dapat digunakan untuk pengendalian penyakit pada karet jamur akar putih (JAP) serta sebagai pupuk organik yang dapat dijual.

Pada kegiatan pembuatan Trichokompos tersebut dibantu oleh beberapa mahasiswa dari Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian ULM dan dihadiri oleh beberapa kelompok tani berjalan dengan lancar dan penuh antusias yang tinggi. Kelompok tani  sangat antusias  sehingga mereka pun ikut membantu secara aktif menyediakan bahan yang ada di lokasi setempat yang bisa dijadikan bahan dasar pembuatan Trikokompos.

Kelompok pekebun karet bersama ketuanya pak Rohim dan kelompok peternak kambing Ettawa bersama ketuanya Pak Mujiono merasakan sekali adanya harapan untuk bisa mengatasi masalah lama mereka di desa. Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat setempat penyakit jamur akar putih menjadi masalah yang sangat menghawatirkan dan belum bisa diatasi secara tuntas. “JAP sangat merugikan petani karet rakyat dan serangannya semakin luas sehingga menurunkan hasil produksi karet” ucap pak Rohim.

Melihat kejadian itu Tim IBM dari ULM tidak tinggal diam. Melalui bimbingan Ibu Dr. Mariana dan Pak Kasidal, SP mencoba memanfaatkan kotoran kambing etawa yang banyak dilingkungan sekitar dan tidak termanfaatkan oleh petani untuk dijadikan kompos sebagai bahan pembawa dari jamur Trichoderma yang dapat mengendalikan JAP.

Trichoderma yang digunakan dalam pembuatan ini berasal dari kebun karet, sebelumnya Tim IBM memberi pelatihan tentang menumbuhkan dan memperbanyak Trichoderma. Ibu-ibu kelompok wanita tani dilatih membuat biakan massal jamur dalam beras sehingga menjadi Tricho beras. Awal mulanya Trichoderma ditumbuhkan pada nasi basi yang dimasukkan dalam potongan bambu kemudian dikubur dalam tanah di sekitar pohon karet. Setelah 1 minggu Trichoderma yang sudah tumbuh diisolasi dan diperbanyak pada media beras.

Pada bulan Agustus dan September 2017 dilakukan pelatihan teknologi sederhana pembuatan Trichokompos. Hasil perbanyakan Trichoderma dari kebun karet itulah yang digunakan Tim IBM UNLAM untuk pembuatan Trichokompos. Trichokompos tersebut dibuat sebanyak 4 lapis yang mana proses pembuatannya yaitu menyiapkan kotoran kambing secukupnya lalu disiram dengan air sampai merata setelah itu ditaburi Trichoderma sebanyak 200 gram setiap lapisnya. Setelah 4 lapisan selanjutnya ditutup dengan terpal sampai rapa

“Kotoran kambing cukup keras sehingga perlu difermentasi selama 3 minggu” ucap pak Kasidal. Setelah difermentasi selama 15 hari langkah selanjutnya mengaduk-aduk kompos tersebut sampai rata lalu ditutup kembali dan didiamkan selama 7 hari. Setelah 7 hari Trichokompos siap diaplikasikan. Hasil pembuatan trikokompos ini memberi harapan masalah jamur akar putih dapat di atasi. “Aplikasikan Trichokompos pada karet diharapkan dapat mengurangi intensitas serangan JAP dan dengan adanya kegiatan ini harapan kedepannya yaitu kelompok tani dapat membuat sendiri  Trichokompos tersebut” ucap Tim IBM.

Leave a comment